Bisakah Kau Menyimpan Rahasia?

Pernah kami sampai di titik kulminasi yang membingungkan.

Kami terjebak dalam ruang dan pikiran.

Menyoal masa lalu, menyoal sekarang.

Hujan yang belum reda, perjalanan yang belum usai, dan cerita yang menggantung.

Petir di luar membuat kami tersadar: kami cuma robot yang dimainkan waktu.

Monoton.

Hei, di bagian mana garis waktu kita berada sekarang? Di tahun berapa kita terjebak sekarang? Kita sudah melintasi beberapa masa, mengunjungi beberapa tempat, dan entah sekarang berada di mana. Kita baru saja sampai lagi di dimensi yang baru.

Saya mulai tidak bisa membedakan mana yang khayalan dan mana yang nyata,” gumam Reksa. Dia adalah teman seperjalananku melintasi waktu.

Diamlah, ini rahasia kita berdua,” ujarku sambil tersenyum dan memperhatikan sekeling, mencoba mengenali astmosfirnya.

Menurutmu kita sekarang seharusnya berumur berapa?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu. “Tiga puluh? Tujuh puluh? Entahlah. Mungkin seratus tahun lebih.”

Hah, kita tak setua itu, Bodoh,” gumamnya sambil tertawa.

Kalender meja menunjukkan tanggal 8 April 2015. Beberapa belas tahun lalu, kafe ini memang milik kami. Dan hari ini, ketika kami mengalami perjalanan lintas waktu lagi dan sampai di sini, kami cukup lega. Setidaknya kami tidak terlempar ke zaman neolitikum saat Reksa hanya memakai daun buat menutupi tubuhnya.

Kafe perpustakaan ini sepi saat kami tiba di sini. Beberapa rak buku berjajar di sekeliling dinding. Pengunjung bisa membacanya sambil menikmati minuman. Ada beberapa foto kami berdua tergantung di dinding, tapi kami terlihat sudah agak tua. Oke, sudah tua. Entah ke mana kami berdua yang sebenarnya—penghuni dimensi ini. Atau mungkin Nada dan Reksa yang itu sudah meninggal? Dan kami yang versi masa lalu ini tiba-tiba saja datang, lalu menghidupkan kembali kafe perpustakaan ini seperti hantu dari lintas waktu.

Ketika Reksa baru saja membuka pintu dan jendela-jendela kafe, seorang perempuan masuk. Dia duduk di sebuah meja dekat jendela kaca, memesan kopi, menunggu dengan sabar sambil memandangi vas bunga berisi bunga aster kering yang ada di meja. Garis wajahnya membuatku dan Reksa saling pandang lama.

Bukan cuma saya saja kan, yang merasa mengenalnya?” tanya Reksa sembari berjalan ke meja pantri.

Aku masih memandangi perempuan yang duduk di sudut itu. “Biar aku yang mengantar pesanannya,” ujarku sembari meraih nampan di meja yang sudah disiapkan Reksa.

Aku menghampiri perempuan itu. Ia tersenyum ketika aku menyodorkan secangkir kopi. Aku menelan ludah. Reksa, aku tahu siapa dia. “Silakan menikmati,” ujarku. Namun, ketika berbalik, tak sengaja tanganku menyenggol vas bunga di pinggir meja itu. Bunyi pecahan gerabah terdengar. Aku tersentak. Lagi? Reksa yang berada di ujung sana pun tersentak. Ia segera menghampiriku. Kami harus mengalami perjalanan lintas waktu lagi?

***

Kau tak bisa berhati-hati sedikit?” bentak Reksa sembari menghampiriku dengan membawa sebuah kantong kertas.

Aku hendak menanggapinya, tapi urung. Aku tersadar. Aku sudah melintas beberapa tahun ke masa lalu. Kafe perpustakaan ini ramai. Di meja tempatku menjatuhkan vas bunga ada seorang perempuan dan putri kecilnya.

Sa, aku bukan—”

Ssstt…. Nad, sebaiknya kamu segera siapkan pesanan untuk meja yang lain,” kata Reksa sembari memunguti pecahan vas bunga di samping kaki meja. Ia meminta maaf atas kecerobohanku pada perempuan dan anak kecil yang duduk di meja itu. Perempuan itu mengiyakan, lalu kembali ke pekerjaannya.

Aku berjalan ke balik rak kayu tinggi yang berisi segala macam kopi. Kuperhatikan perempuan yang menulis sesuatu di bukunya itu. Ia selalu duduk di sana untuk waktu yang lama. Menulis sesuatu, hingga aku hafal benar bahwa buku catatannya itu sudah hampir penuh. Selalu di tempat yang sama, di dekat jendela kaca. Putrinya yang manis selalu duduk bersamanya, menikmati manisan yang dipesannya sambil membaca buku dongeng yang diambilnya dari rak buku.

Aku ingat, mereka berdua adalah pengunjung paling setia. Mereka masih akan duduk di sana sampai pengunjung yang lain sudah pergi satu persatu. Seringkali, Reksa harus menghampiri meja itu untuk mengingatkan bahwa kafe sudah mau tutup. Jika sudah begitu, barulah perempuan itu berkemas, menyuruh putrinya mengembalikan buku-buku dongeng yang dibacanya ke rak, lalu membayar pesanan dan pamit pergi. Mereka akan datang beberapa hari kemudian, menghabiskan waktu di sudut itu lagi.

Kau masih berdiri di situ saja, Nada?” ujar Reksa seraya menghampiriku.

Sa, aku bukan Nada yang kamu kira. Aku baru saja datang dari masa depan,” jelasku.

Ia menatapku beberapa saat. “Kau pikir saya tidak? Kita tadi pergi bersama,” ujarnya.

Aku tak bisa menahan tawa kecil, lega mendengarnya. “Jadi, di tahun berapa kita sekarang?” bisikku.

Kau lihat anak kecil yang bersama perempuan itu? Dia tak asing dengan kita sejak kecil, sejak berada di tahun ini, hingga nanti di masa depan ketika kita bertemu lagi dengannya. Dia akan tumbuh dewasa, sementara kita yang datang dari lintas waktu, masih akan berumur sama. Dia tahu semua tentang kita.”

Apa? Kau yakin? Lalu kita harus bagaimana?” tanyaku panik. Tanganku tak sengaja menjatuhkan vas bunga di atas rak kayu di sampingku.

Reksa menghela napas panjang. “Nad, kau… jangan lagi.”

***

Permisi. Halo, permisi.”

Suara perempuan itu membuatku terkejut. Kepalaku terantuk meja. Aku pun segera berdiri dan mendapati sudah berada di balik meja kasir. Pecahan vas bunga tersebar di lantai, di dekat kakiku.

Maaf, saya mengagetkanmu,” ujar perempuan di depanku itu.

Oh, nggak kok. Maaf membuatmu menunggu,” kataku, lalu menghitung pesanan yang harus dibayarnya.

Aku menoleh sekilas pada Reksa yang baru keluar dari dapur. Dia memelototiku sambil memperhatikan pecahan vas bunga yang ada di samping kakiku. Kami baru saja kembali dari masa lalu.

Terima kasih,” kata perempuan di depanku setelah menerima uang kembalian dariku. “Oh iya, ini, mungkin bisa menambah koleksi kafe perpustakaan ini,” ujarnya sambil meninggalkan sebuah buku di atas meja.

Aku terdiam memperhatikan buku itu. Tentang Waktu. Judul itu tertulis di sana.

Maaf, tunggu sebentar,” ujar Reksa sembari menghampiri kami, menahan langkah perempuan itu. “Buku ini… Anda atau ibu Anda yang menulisnya?” tanyanya, membuatku menelan ludah.

Perempuan itu tersenyum. “Saya yang menulisnya. Sepertinya saya mengikuti jejak ibu saya menggilai pekerjaan ini,” jawabnya masih sambil tersenyum, lalu pergi begitu saja.

Laki-laki di sampingku meraih buku yang ada di meja itu. Kami membaca bagian belakang buku itu sepintas. Semua rahasia kami tertulis di sana. Semua perjalanan lintas waktu kami, yang selama ini kami simpan sendiri, sudah tak bisa lagi disebut rahasia.

Basic RGB

Buat #RabuMenulis #TimeTravelerSeries

Buku Baru: Bicara Soal Waktu

Setelah melewati serangkaian proses yang cukup panjang, akhirnya telah terbit dua buku berikut ini. Kedua novel ini sama-sama memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai di tahap terakhir. Buku yang pertama, karena penulisnya ada tiga; sedangkan buku yang kedua, karena genre­-nya masih terbilang baru buat saya. Mari berkenalkan dua buku tersebut.

#UntukApaKauMenandaiWaktu?

Buku pertama ini adalah sebuah antologi cerpen yang saya tulis bersama dua penulis lain: Arum Effendi dan Rae Shella. Arum Effendi tak lain adalah saudara kembar saya, sementara Rae Shella adalah sahabat baik saya yang juga bergabung di organisasi yang sama dengan saya selama di Universitas Brawijaya. Kami bertiga sama-sama suka menulis—dan kebetulan juga punya beberapa cerita pendek yang menganggur di laptop masing-masing.

Cover Untuk Apa Kau Menandai Waktu?

Cover Untuk Apa Kau Menandai Waktu?

Judul buku ini kami ambil dari judul salah satu cerpen. Tidak semua cerpen dalam buku ini bicara soal waktu. Bahkan, dalam cerpen yang bersangkutan pun, pertanyaan ‘untuk apa kau menandai waktu?’ tak dijawab secara eksplisit. Penulis, yang tidak lain adalah saya, memberi kebebasan pada pembaca untuk menemukan jawabannya🙂

Antologi cerpen ini diterbitkan oleh penerbit kampus UB Press. Ada 18 cerpen di dalamnya. Meski prosesnya cukup lama, tapi hasilnya memuaskan. Saya ingat diskusi-diskusi panjang kami di depan perpustakaan UB, proses penulisan (yang kadang membuat Shella lupa mengerjakan tugas kuliah), juga serangkaian proses yang selalu membuat kami heboh sehabis keluar dari kantor UB Press.

Buku ini diriview oleh dua reviewer dengan sangat detail sebelum penerbit mengambil keputusan kelayakan terbitnya. Biasanya, pihak penerbit memberikan draft anonim pada dosen-dosen untuk meriview. Meski harusnya identitas reviewer ini bersifat rahasia, namun kami sudah berhasil membongkar salah satunya. Dari tulisannya yang puitis, kami tahu benar review itu ditulis oleh seorang dosen Sastra Inggris yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Jurusan. Sementara, reviewer keduanya masih misterius sampai saat ini.

Banyak hal yang spesial dari antologi ini. Saya sangat menyukai ilustrasi-ilustrasi yang dibikin oleh seorang mahasiswa Seni Rupa UB. Saya juga sangat menghargai testimoni yang diberikan seorang dosen Sastra Inggris untuk buku kami di tengah-tengah kesibukannya. Intinya, buku ini benar-benar seperti sebuah jejak terakhir yang kami tinggalkan di kampus biru; sebuah penutup yang untuk masa studi kami ;D

#TentangWaktu

Buku kedua ini adalah sebuah novel yang saya kategorikan dalam genre historical romance. Buku ini masuk Time Traveler Series Penerbit GagasMedia. Ada sisi sejarah yang dalam waktu bersamaan juga bicara tentang cinta di sini. Ya, dan sesuai dengan judulnya, buku ini bercerita tentang waktu yang rumit dan terdistorsi. Pemeran utama pergi ke lintas masa, ke dimensi lain yang tak pernah diduganya.

Cover Tentang Waktu

Cover Tentang Waktu

Buku ini adalah novel kelima saya. Proses penulisannya tak mudah mengingat ini adalah kali pertama saya menulis tentang time travel. Referensinya saya dapatkan dari banyak sumber, terutama dari buku tentang Perang Bosnia 1992. Namun selebihnya, Jia Effendie, editor saya, membantu saya memoles novel ini dengan sangat baik :

Untuk tahu lebih lanjut tentang novel ini, pembaca bisa kunjungi website GagasMedia dengan link berikut http://gagasmedia.net/atikel-buku/36-articles/1388-antara-cinta-dan-perang-bosnia

Mengenalmu Lewat Fiksi

Saya punya sebuah buku berisi 50 mimpi. Semuanya ada di sana, mulai impian terdekat sampai impian terjauh. Salah satu mimpi yang tertulis di sana adalah untuk bertemu dengan penulis Indonesia favorit saya: Windry Ramadhina. Beliau adalah sosok yang cukup berpengaruh dalam karir saya menulis. Saya memang mengenal novel ber-genre romance darinya. Awalnya, tulisan saya berjenis historal romance. Meski saya memang sebenarnya lebih suka historical romance—dan saya memang lebih menikmati proses penulisan jenis tulisan ini—tapi mencoba dunia adult romance rasanya tak bisa diremehkan. Jenis tulisan itu memperbesar kapabilitas saya dalam menulis fiksi.

Setelah perkenalan saya dengan tulisan-tulisan Windry itu, kemudian saya mencoba berkenalan via surel. Hari ini, sewaktu saya membaca kembali surel-surel itu, rasanya norak sekali waktu itu. Tapi, dari obrolan itu, akhirnya saya cukup mengenal Kak Windry. Setidaknya, dia tahu kalau ada seorang pembaca setianya di sini yang bernama Tyas Effendi. Saya juga pernah sekali mengirim prakarya buat Kak Windry setelah terinspirasi oleh prakarya-prakarya unik yang dibikinnya.

Image7254

semacam gantungan kunci yang saya kirim ke Windry Ramadhina

Meski Orange adalah novel Kak Windry yang pertama kali membuka cakrawala pengetahuan saya tentang romance novel, tapi bukunya yang paling berkesan buat saya adalah Metropolis. Novel ini adalah salah satu novel Indonesia yang menarik dan bisa dibaca berulang kali. Saya juga sempat membuat resensi buku ini dan dimuat di majalah dinding di fakultas. Resensi buku ini bisa dibaca di page Book Reviews.

Beberapa bulan kemudian, sebelum saya berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata sebulan, saya dapat kiriman buku Kak Windry dari seorang teman di komunitas baca.

Dari semua rangkaian efek yang ditimbulkan dari perkenalan saya dengan Kak Windry itulah, akhirnya muncul juga beliau di salah satu halaman dream book saya. Dan kemarin, sebelum saya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan Leadership Development Beswan Djarum, saya sudah mengontak Kak Windry untuk mengatur jadwal pertemuan.

Selama mengikuti pelatihan kepemimpinan di Menara Peninsula Hotel, ada sesi yang diisi seorang motivator bernama James Gwee. Gwee bilang, “Kalau Anda ingin sukses, cari dan temukan sosok yang bisa menjadi guru dalam bidang itu, Dia akan mengajari Anda dari tidak tahu menjadi tahu.” Gwee meminta semua peserta untuk menuliskan cita-cita dan nama orang yang bisa dijadikan guru tersebut. Setelah acara di Slipi selesai, saya extend ke Depok dan bertemu dengan yang bersangkutan. Saya tak menyangka juga kalau apa yang saya tulis di buku catatan hotel itu bisa terwujud dengan sangat cepat.

Saya dan Windry Ramadhina di sebuah sudut Ranah Kopi, Depok

saya dan Windry Ramadhina di sebuah sudut Ranah Kopi, Depok

Sebenarnya, kalau sudah bicara tentang kepenulisan—seperti yang biasa saya ikuti di komunitas baca di Malang—saya bisa menghabiskan waktu lebih dari lima jam. Tapi, karena waktu yang tak mengizinkan berlama-lama, jadilah pertemuan itu singkat sekali. Meski hanya sebentar, tapi bisa dibilang saya sudah cukup puas. Saya hanya berharap lain kali bisa bertemu lagi dengan beliau dan bertukar obrolan seperti kemarin.

kesan manis Windry Ramadhina di halaman dalam novel Memori yang saya bawa

kesan manis Windry Ramadhina di halaman dalam novel Memori yang saya bawa

Selain bermanfaat buat saya, ternyata pertemuan sore hangat di Ranah Kopi itu membawa manfaat baik juga buat teman saya (yang mengantar saya bertemu Windry). Selamat ya, akhirnya kamu dapat pencerahan buat tulisan kamu berikutnya.

 

Welcome Party – Sebuah Tradisi

Beswan Djalang 29 berfoto bersama seusai Welcome Party.

Beswan Djalang 29 berfoto bersama seusai Welcome Party.

Ada banyak kegiatan yang akan diikuti seorang beswan, termasuk salah satunya Welcome Party (WP). WP sebenarnya tidak termasuk dalam rangkaian kegiatan pelatihan soft skills yang akan diikuti seorang beswan. Kegiatan ini adalah sebuah momentum awal pertemuan semua beswan dalam satu distrik yang sudah menjadi sebuah tradisi. Bisa dibilang, gathering ini semacam ospek di ranah beswan. Dalam kegiatan yang berlangsung sehari ini, semua beswan dalam satu distrik akan berkunjung ke kantor Djarum dan mendapatkan pengetahuan tentang serangkaian kegiatan yang akan mereka ikuti selama menjadi beswan, serta ketentuan-ketentuan lainnya.

Acara Welcome Party yang diikuti oleh Beswan Djalang 29 Malang diadakan pada tanggal 13 Oktober 2013 di Kantor Djarum. Awalnya, semua Beswan Djalang berkumpul di gazebo Universitas Brwijaya—mengingat jumlah beswan dari kampus biru ini adalah yang paling banyak se-Malang. Sembari menunggu teman-teman yang lain datang, setiap kelompok mempersiapkan yel-yel masing-masing. Ya, beswan dari Distrik Malang memang sudah dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya terdiri dari kumpulan beswan dari berbagai universitas di Malang. Mungkin, konsep pembagian kelompok inilah yang nantinya membuat Beswan Djalang memiliki yel-yel terheboh dari beswan-beswan distrik lain.

Setelah semua beswan berkumpul, perjalanan ke Kantor Djarum pun dimulai dengan dipimpin oleh kakak beswan angkatan 28. Acara dimulai dengan presentasi oleh pembina Pembina Djarum Bakti Pada Negeri Malang tentang segala seluk beluk Djarum Beasiswa Plus. Presentasi ini juga mencakup pembahasan tentang prosedur penerimaan uang beasiswa, atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘gaji’. Penerimaan gaji dilakukan setiap bulannya selama setahun dengan membawa KTM dan tanpa boleh diwakilkan oleh orang lain.

Acara selanjutnya adalah presentasi tentang semua kegiatan yang akan dilakukan oleh seorang beswan: Nation Building, Character Building, Leadership Development, Competition Challenges, International Exposure, dan Community Empowerment. Penjelasan tentang semua rangkaian kegiatan tersebut juga merupakan media sharing pengalaman oleh kakak beswan 28 karena mereka sudah merasakan semua kegiatan tersebut.

Satu bagian yang menarik dari acara Welcome Party Beswan Djalang adalah kegiatan tukar kado. Semua beswan angkatan 29 yang datang dalam acara tersebut memang diminta membawa kado berbungkus koran dan bersifat netral, artinya barang tersebut dapat dipakai laki-laki dan perempuan. Kemudian, semua beswan duduk melingkar dan menggeser kadonya sesuai instruksi MC. Dari sanalah kemudian terjadi pertukaran kado yang menyenangkan. Ada yang dapat bantal, cangkir, pigura dengan foto Beswan Djalang, gelang bermotif macan, atau bahkan flashdisk 8 GB.

Kura-kura yang didapat penulis dari tukar kado di Welcome Party.

Kura-kura yang didapat penulis dari tukar kado di Welcome Party.

Untuk menghapus gap antara kelompok satu dan kelompok lain, pada akhirnya semua beswan disatukan dengan ditandai dengan dipilihnya pengurus inti. Kemudian, dalam waktu satu jam, harus sudah terbentuk sebuah yel-yel yang merupakan gabungan dari potongan yel-yel terbaik dari setiap kelompok. Perlu digarisbawahi, untuk Distrik Malang, tak mengherankan kalau yel-yel yang dibuat penuh dengan punch line kata terkenal khas Surabaya. Penambahan kata yang sebenarnya cukup kasar untuk kalangan arek Malang tersebut semata-mata untuk merekatkan dan mengakrabkan semua anggota.

Penutup acara adalah prosesi tutup masa jabatan dari angkatan 28 yang ditandai dengan kegiatan saling minta maaf antarbeswan. Bagian ini cukup mengharukan, sebab hampir semua kakak beswan menangis mengenal masa setahun ke belakang yang telah mereka jalani. Ada tawa, duka, rasa sesal, dan juga rasa bangga yang mereka bagi. Terbayang sudah masa satu tahun ke depan yang akan dijalani Beswan Djalang 29. Langkah pertama sudah diawali dengan tradisi Welcome Party, tradisi yang menjadi saksi pertemuan pertama beswan.

[Resensi] Apa yang Kau Lihat di Balik Gelap?

Arum Effendi

Judul buku                : Kisah Langit

Penulis                        : Arum Effendi

Jumlah halaman        : 324

Penerbit                      : Qanita

Cetakan                      : Kesatu, 2013

 

Kadang aku jengkel dan marah pada kehidupan. Juga pada Bunda. Dia tak lagi peduli. Bunda seharian hanya memandangi harpa yang tergolek di dalam kamar. Bunda ingin seseorang memainkannya. Kadang dia berteriak-teriak dan menangis sendiri. Ketika itu terjadi, aku lebih memilih menulikan kedua telinga. Kulepas hearing aid dan kubiarkan dunia berubah menjadi bisu.

 

Ini tentang harpa, kincir angin, dan pesawat. Ini tentang Rahani Nugraha, gadis yang tak bisa memainkan harpa dengan sempurna itu, tentang Bayu Narendra yang dulu selalu menghidupkan impian tentang negeri kincir angin, dan tentang Antariksa Ganidar si penggila pesawat yang sekaligus juga fobia naik pesawat. Rahani dan Bayu memiliki hubungan baik sewaktu kecil. Mereka bersahabat dengan cara mereka sendiri. Sedangkan Antariksa sendiri hanyalah seorang pemuda asing dengan segala masa lalu panjangnya yang tak terduga.

Efek penyakit meningitis membuat Rahani tak bisa mendengar dengan normal, sehingga ia harus menggunakan alat bantu pendengaran (hearing aid) untuk bisa mendengar suara. Kenyataan itu membuatnya semakin tak bisa mengejar kegeniusan kakaknya untuk menjadi seorang harpist. Sejak kecil, bundanya memang menuntut gadis itu bisa sesempurna sang kakak. Dan dunia seolah melengkapi penderitaannya ketika ayah dan kakaknya meninggal dalam sebuah kebakaran sebelum tampil dalam sebuah resital. Musibah itu membuat bunda Rahani depresi berat hingga akhirnya hanya bisa menghabiskan sekian tahun hidupnya dalam duka yang tak terobati.

Kehidupan Rahani jadi semakin berubah sejak Bayu kembali dari Yogyakarta setelah perpisahan panjang keduanya. Bayu menjadi sosok yang berbeda, yang tak lagi sama dengan sahabat masa kecilnya dulu. Di waktu yang sama, pemuda lain muncul lebih dari seorang sahabat yang dirindukan Rahani. Antariksa, seorang laki-laki keturunan Belanda yang ditinggalkan ayahnya dalam sebuah kecelakaan pesawat sewaktu masih kecil dan tinggal di kota budaya.

Rahani dan Riksa memiliki satu impian yang sama, terbang ke Leiden, dengan tujuan yang berbeda. Rahani ingin melanjutkan studinya, sedangkan Riksa memiliki tujuan yang lebih penting. Laki-laki itu ingin bertemu dengan mama dan adik perempuannya yang sudah lama tidak tinggal bersamanya. Impian keduanya tercapai, namun Rahani mendapat sebuah ujian yang tak terduga di kota impiannya itu. Yang membuat Rahani bisa bertahan hanyalah sikap Riksa yang bisa menerima gadis itu apa adanya.

Penulis novel yang masih tercatat sebagai mahasiswa Sastra Inggris FIB UB ini berhasil menggambarkan setiap potongan ceritanya dalam detail yang rapi. Deskripsi tentang rumah dengan Jendela Leiden-nya, tentang negeri tulip, bahkan juga tentang penghuni langit malam dapat disajikan dengan sempurna. Hanya saja, pengolahan alur cerita masih kurang bagus karena beberapa sub-plot yang belum terselesaikan dengan utuh.

Novel ini bukan sekadar cerita fiksi pada umumnya. Melalui genre romance, penulis bisa menyampaikan sesuatu yang “lebih” pada pembaca. Membaca novel ini seperti didongengi ilmu dan tempat baru dengan cara yang menyenangkan. Diajak menyadari satu hal penting bahwa cahaya justru akan tampak lebih terang dalam gelap.

[inside my mind] Menjemput Waktu

Ketika aku sedang berbicara tentangku, kadang aku berpikir: aku adalah orang yang paling tak bisa diajak bersabar menunggu waktu. Waktu selalu kuanggap berjalan begitu lambat. Waktu cuma bisa merangkak dan tak pernah mau berlari. Sedangkan aku sendiri, berlari begitu cepat, mengejar detik demi detik seperti tak mau sejenak saja berhenti.

Aku mau mengejar waktu. Tapi kalender cuma kumpulan angka mati yang tak mau tahu jenuhnya aku. Yang sudah dirumuskan hitungannya sedemikian rupa, sehingga aku tak bisa apa-apa.

Aku di sini mencoba berdamai dengan waktu. Sekian bulan, menunggu musim kemarau berhenti dan digantikan musim hujan. Ya ya, aku menikmati penantianku.

Pilih Penerbit yang Sesuai

 

Sebagian besar penulis pemula kesulitan mempublikasikan karya mereka karena tidak tahu penerbit mana yang harus mereka tuju. Sebenarnya, hal ini penting untuk diketahui sebab akan memudahkan proses publikasi. Mengirimkan naskah romance ke penerbit novel religi atau mengirimkan naskah teenlit ke penerbit novel sejarah? Tentu saja naskah akan tertolak.

Untuk penulis profesional, hal ini memang tidak terlalu dibutuhkan sebab penerbit sendiri yang akan menghubungi mereka atau mereka sudah punya link dengan penerbit tertentu. Tapi, untuk penulis pemula, hal ini akan sangat berpengaruh. Jadi, setelah tahu jenis tulisan (genre) yang sesuai dengan tulisan kamu, mulailah memilih penerbit.

Kuncinya adalah setiap penerbit punya batasan-batasan jenis tulisan yang akan mereka terbitkan. Penerbit akan melihat pasar, sebab penerbitan ini adalah bisnis. Jadi, penulis harus punya trik agar naskahnya tak melulu ditolak penerbit. Baca dulu buku-buku terbitan mereka, lalu pilihlah yang sesuai dengan jenis tulisan kita. Dengan begitu, naskah yang sudah kamu kirim akan diproses ke tahap selanjutnya hingga beredar di toko buku.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, berikut ini daftar beberapa penerbit sesuai genre novel yang mereka terbitkan:

Romance: Gramedia, GagasMedia, Gradien Mediatama, Qanita Romance

Comedy: GagasMedia, Gramedia

Religion: Mizania, Qanita, Bentang, Serambi, Media Pressindo, Diva Press

Cultural/ inspirational: Bentang Pustaka, Gramedia, Serambi.

Fantasy: Mizan Fantasy

Mystery: KPG

Historical fiction: Gramedia, Qanita, Bentang Pustaka, Serambi, Media Pressindo

Science Fiction: KPG, Gramedia, GagasMedia

Untuk lebih lengkapnya, silakan  kunjungi homepage masing-masing penerbit dan baca genre tulisan apa saja yang mereka terbitkan. Selamat berburu penerbit! :))