Langkah-Langkah Menerbitkan Novel

 

Banyak teman saya yang sangat bersemangat untuk menerbitkan novel, tapi bingung harus memulainya dari mana. Kebanyakan dari mereka malah berhenti di tengah jalan ketika sudah memulai. Alasannya pun beragam, misalnya karena terlalu banyak ide, tidak ada inspirasi, tidak ada waktu, dll. Sebenarnya sayang sekali kalau kesempatan untuk berbagi imajinasi tertunda karena alasan-alasan itu. Kalau motifnya benar, langkahnya benar, dan ada kemauan besar, pasti bisa lolos ujian di penerbit 🙂

Berdasarkan pengalaman saya, berikut ini langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menerbitkan novel:

1. Kenali jenis novel kamu

2. Buat target penerbit mana yang akan kamu tuju

3. Buat deadline untuk membatasi waktumu menulis

4. Mulai membuat outline

5. Mulai menulis novel

6. Mengedit!

7. Kirim naskah ke penerbit

Sekian. Silakan dicoba. Selamat menulis!

Advertisements

Membuat Kerangka Karangan (Outline)

Jangan sepelekan hal yang satu ini. Kerangka karangan atau kerangka tulisan atau rancangan tulisan atau outline sangat penting untuk penulis pemula. Bagi penulis profesional, outline memang tidak terlalu dibutuhkan. Outline sudah ada di otak mereka, tak perlu ditulis, atau bahkan tak butuh outline. Tulisan langsung mengalir begitu saja. Tapi, mengutip apa yang dikatakan dosen saya, “Outline itu mutlak adanya bagi penulis pemula. Bahkan, penulis profesional pun juga tetap membutuhkan outline saat akan menulis, walaupun hanya ada di otak mereka”.

Bagi saya pribadi, outline adalah sebuah pagar yang bisa membatasi arah tulisan kita. Outline memberi kita gambaran yang jelas bagaimana tulisan itu nantinya akan selesai. Nah, bagi teman-teman yang selalu mengeluh tulisannya sudah sampai separuh tapi tidak tahu lanjutannya atau tulisannya mengembang di luar konsep awal, mungkin itu karena teman-teman tidak membuat kerangka karangan sebelum menulis. Walaupun hanya konsep sederhana, tapi rancangan tulisan ini sangat penting adanya. Berikut ini adalah beberapa poin penting yang harus diperhatikan saat membuat outline:

– Judul (walaupun biasanya judul akan muncul di otak kita saat tulisan sudah mulai ditulis, tapi ada baiknya memikirkan judul ini sejak awal)

Tagline: seluruh inti cerita ditulis dalam satu kalimat singkat

– Tema: sangat penting, terutama agar kita mengenal tulisan kita itu

– Inti utama cerita, termasuk moral message yang akan kita sampaikan pada pembaca

– Tokoh, baik minor ataupun major: pikirkan karakter fisik maupun non-fisik dari tokoh

– Kronologi cerita, berupa bab awal sampai akhir

 

Sekian.

Selamat membuat outline ;D

Feeling Free

Aku menyebut bulan ini musim bungur. The crape myrtle trees are blooming, showing their pink and purple flowers. Dan, di musim inilah akhirnya aku menyelesaikan novelku yang kelima. Yah, sebenarnya sudah lewat deadline. Tapi, editorku akhirnya memberiku perpanjangan waktu seminggu lagi. (walaupun pada akhirnya aku telat lagi dua hari)

Novel itu kukerjakan kurang lebih 6 minggu. Aku yang tadinya mau menikmati liburan, ternyata harus menyelesaikan novel itu, gara-gara permintaan editor. Aku sudah minta bantuan Abbas, temanku sesama penyuka fiksi, untuk mencarikan judul yang bagus. Aku minta yang ada hubungannya dengan jejak, dan rekomendasinya bikin aku nggak berhenti ketawa. Tapi, aku tertarik dengan salah satu kata. Akhirnya, aku adopsi kata itu menjadi judulku. Selaksa Rasa (Menelusuri jejak cerita kita). Sounds norak? Biar sajalah, waktu itu sudah ditungguin editor.

Image

Selain sibuk dengan finishing novel itu, kemarin-kemarin aku juga sibuk dengan banyak hal, terutama kegiatan organisasi. Santu lalu ada kegiatan Launching Majalah MIMESIS edisi 2. Lalu, dilanjutkan dengan kesibukan Open Recruitment FONETIK. Sampai malam bahkan aku masih bantu adik tingkat mengedit banner. Di tengah-tengah kesibukan itu, aku sempat diminta bantuan untuk menjadi pemateri di acara kepenulisan di Mojokerto. Karena waktunya mendadak, aku tak bisa.

Akhirnya, sekarang aku sudah bebas dari segala kesibukan itu. Mau bersantai menikmati musim bungur yang belum berlalu.

 

A New Pen Pal

I got a long distance friend named Anggara. Actually, he is a friend of curio cherry on fanfiction. We have the same hobby that is writing, so that we are friends now. Some weeks ago, curio cherry sent him my novel, Catatan Musim. I have read some stories of him, and I think they’re good. But, sometimes he is depressed because of writing ==”

On February 25th, my twin sista and I got two post cards from him. Well, I usually get some letters from my pen pal, but this one is different. I want to send him a post card of Malang someday. What a beautiful view 🙂  

Image

“A romantic sunsets view facing to Lombok strait with the sacred mount Agung on the island of Bali in a distance”

Novel Duet

Sebenarnya, saya sudah merencanakan untuk tidak banyak menulis selama liburan panjang kali ini. Saya hanya ingin menikmati seperti apa liburan yang sebenarnya. Tapi, segala sesuatu berjalan di luar rencana. Ada permintaan naskah dari Christian Simamora, ada permintaan cerpen dari Gradien Mediatama, dan satu lagi: novel duet.

Saya sedang mengerjakan sebuah novel duet dengan Abbas, seorang jurnalis sebuah portal berita online. Mungkin novel ini akan berjudul Monolog Hujan. Itu judul pilihan Abbas. Yah, sebenarnya saya sudah muak dengan hal-hal yang berkaitan dengan hujan. Tapi tak apa, nikmati saja setiap tetesnya 🙂

Image7301

Saya menulis untuk Aurin, seorang model. Sedangkan Abbas menulis untuk Aldinar, seorang jurnalis. Kami membagi tugas: saya untuk bab ganjil, sementara Abbas untuk bab genap. Waktu untuk menyelesaikan satu bab (yang kami sebut monolog) adalah satu minggu. Yah, kadang bisa lebih sih kalau sama-sama sedang banyak tugas lain.

Image7303

Sekarang, kami baru sampai di monolog 5. Sabar, hujan masih belum mau berhenti.

Menanti Pak Pos

Image7254

[key chain for my new pen pal, Windry Ramadhina]

 

Setiap orang punya hobi yang bermacam-macam. Saya sendiri punya banyak hobi: membuat perahu kertas, mengamati langit, mengamati pohon, menulis, dan juga berkirim surat via pos. Sejauh ini, saya punya empat sahabat pena. Repa Kustipia, dari Tasikmalaya; Ihat Al Azmi, dari Tasikmalaya; Taufiqurrahman, dari Madura, dan yang terbaru, Windry Ramadhina, dari Jakarta.

Tiga sahabat pena saya yang pertama adalah para pembaca novel saya (Izinkan Aku Bersujud) yang pada akhirnya melanjutkan silaturrahmi dengan bertukar cerita lewat surat. Sedangkan yang terakhir adalah seorang penulis. Pertama kali mengenal Windry ketika saya membaca novelnya yang berjudul Orange. Terus terang, saya tergila-gila dengan caranya bercerita. Lebih tergila-gila lagi ketika tahu dia hobi bikin berbagai macam pernak-pernik lucu.

Akhirnya, saya memulai berkirim surat dengannya. Gambar di atas itu key chain yang seminggu lalu saya kirim ke dia, ke Jakarta. Tak sabar menunggu surat balasan dari penulis favorit saya itu 😀

nb: tadi sore saya menerima sebuah surat balasan dari Ihat. Belum sempat baca, tapi saya tahu dia menyelipkan sesuatu di dalamnya. Tunggu balasannya, Ihat 😀