Bisakah Kau Menyimpan Rahasia?

Pernah kami sampai di titik kulminasi yang membingungkan.

Kami terjebak dalam ruang dan pikiran.

Menyoal masa lalu, menyoal sekarang.

Hujan yang belum reda, perjalanan yang belum usai, dan cerita yang menggantung.

Petir di luar membuat kami tersadar: kami cuma robot yang dimainkan waktu.

Monoton.

Hei, di bagian mana garis waktu kita berada sekarang? Di tahun berapa kita terjebak sekarang? Kita sudah melintasi beberapa masa, mengunjungi beberapa tempat, dan entah sekarang berada di mana. Kita baru saja sampai lagi di dimensi yang baru.

Saya mulai tidak bisa membedakan mana yang khayalan dan mana yang nyata,” gumam Reksa. Dia adalah teman seperjalananku melintasi waktu.

Diamlah, ini rahasia kita berdua,” ujarku sambil tersenyum dan memperhatikan sekeling, mencoba mengenali astmosfirnya.

Menurutmu kita sekarang seharusnya berumur berapa?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu. “Tiga puluh? Tujuh puluh? Entahlah. Mungkin seratus tahun lebih.”

Hah, kita tak setua itu, Bodoh,” gumamnya sambil tertawa.

Kalender meja menunjukkan tanggal 8 April 2015. Beberapa belas tahun lalu, kafe ini memang milik kami. Dan hari ini, ketika kami mengalami perjalanan lintas waktu lagi dan sampai di sini, kami cukup lega. Setidaknya kami tidak terlempar ke zaman neolitikum saat Reksa hanya memakai daun buat menutupi tubuhnya.

Kafe perpustakaan ini sepi saat kami tiba di sini. Beberapa rak buku berjajar di sekeliling dinding. Pengunjung bisa membacanya sambil menikmati minuman. Ada beberapa foto kami berdua tergantung di dinding, tapi kami terlihat sudah agak tua. Oke, sudah tua. Entah ke mana kami berdua yang sebenarnya—penghuni dimensi ini. Atau mungkin Nada dan Reksa yang itu sudah meninggal? Dan kami yang versi masa lalu ini tiba-tiba saja datang, lalu menghidupkan kembali kafe perpustakaan ini seperti hantu dari lintas waktu.

Ketika Reksa baru saja membuka pintu dan jendela-jendela kafe, seorang perempuan masuk. Dia duduk di sebuah meja dekat jendela kaca, memesan kopi, menunggu dengan sabar sambil memandangi vas bunga berisi bunga aster kering yang ada di meja. Garis wajahnya membuatku dan Reksa saling pandang lama.

Bukan cuma saya saja kan, yang merasa mengenalnya?” tanya Reksa sembari berjalan ke meja pantri.

Aku masih memandangi perempuan yang duduk di sudut itu. “Biar aku yang mengantar pesanannya,” ujarku sembari meraih nampan di meja yang sudah disiapkan Reksa.

Aku menghampiri perempuan itu. Ia tersenyum ketika aku menyodorkan secangkir kopi. Aku menelan ludah. Reksa, aku tahu siapa dia. “Silakan menikmati,” ujarku. Namun, ketika berbalik, tak sengaja tanganku menyenggol vas bunga di pinggir meja itu. Bunyi pecahan gerabah terdengar. Aku tersentak. Lagi? Reksa yang berada di ujung sana pun tersentak. Ia segera menghampiriku. Kami harus mengalami perjalanan lintas waktu lagi?

***

Kau tak bisa berhati-hati sedikit?” bentak Reksa sembari menghampiriku dengan membawa sebuah kantong kertas.

Aku hendak menanggapinya, tapi urung. Aku tersadar. Aku sudah melintas beberapa tahun ke masa lalu. Kafe perpustakaan ini ramai. Di meja tempatku menjatuhkan vas bunga ada seorang perempuan dan putri kecilnya.

Sa, aku bukan—”

Ssstt…. Nad, sebaiknya kamu segera siapkan pesanan untuk meja yang lain,” kata Reksa sembari memunguti pecahan vas bunga di samping kaki meja. Ia meminta maaf atas kecerobohanku pada perempuan dan anak kecil yang duduk di meja itu. Perempuan itu mengiyakan, lalu kembali ke pekerjaannya.

Aku berjalan ke balik rak kayu tinggi yang berisi segala macam kopi. Kuperhatikan perempuan yang menulis sesuatu di bukunya itu. Ia selalu duduk di sana untuk waktu yang lama. Menulis sesuatu, hingga aku hafal benar bahwa buku catatannya itu sudah hampir penuh. Selalu di tempat yang sama, di dekat jendela kaca. Putrinya yang manis selalu duduk bersamanya, menikmati manisan yang dipesannya sambil membaca buku dongeng yang diambilnya dari rak buku.

Aku ingat, mereka berdua adalah pengunjung paling setia. Mereka masih akan duduk di sana sampai pengunjung yang lain sudah pergi satu persatu. Seringkali, Reksa harus menghampiri meja itu untuk mengingatkan bahwa kafe sudah mau tutup. Jika sudah begitu, barulah perempuan itu berkemas, menyuruh putrinya mengembalikan buku-buku dongeng yang dibacanya ke rak, lalu membayar pesanan dan pamit pergi. Mereka akan datang beberapa hari kemudian, menghabiskan waktu di sudut itu lagi.

Kau masih berdiri di situ saja, Nada?” ujar Reksa seraya menghampiriku.

Sa, aku bukan Nada yang kamu kira. Aku baru saja datang dari masa depan,” jelasku.

Ia menatapku beberapa saat. “Kau pikir saya tidak? Kita tadi pergi bersama,” ujarnya.

Aku tak bisa menahan tawa kecil, lega mendengarnya. “Jadi, di tahun berapa kita sekarang?” bisikku.

Kau lihat anak kecil yang bersama perempuan itu? Dia tak asing dengan kita sejak kecil, sejak berada di tahun ini, hingga nanti di masa depan ketika kita bertemu lagi dengannya. Dia akan tumbuh dewasa, sementara kita yang datang dari lintas waktu, masih akan berumur sama. Dia tahu semua tentang kita.”

Apa? Kau yakin? Lalu kita harus bagaimana?” tanyaku panik. Tanganku tak sengaja menjatuhkan vas bunga di atas rak kayu di sampingku.

Reksa menghela napas panjang. “Nad, kau… jangan lagi.”

***

Permisi. Halo, permisi.”

Suara perempuan itu membuatku terkejut. Kepalaku terantuk meja. Aku pun segera berdiri dan mendapati sudah berada di balik meja kasir. Pecahan vas bunga tersebar di lantai, di dekat kakiku.

Maaf, saya mengagetkanmu,” ujar perempuan di depanku itu.

Oh, nggak kok. Maaf membuatmu menunggu,” kataku, lalu menghitung pesanan yang harus dibayarnya.

Aku menoleh sekilas pada Reksa yang baru keluar dari dapur. Dia memelototiku sambil memperhatikan pecahan vas bunga yang ada di samping kakiku. Kami baru saja kembali dari masa lalu.

Terima kasih,” kata perempuan di depanku setelah menerima uang kembalian dariku. “Oh iya, ini, mungkin bisa menambah koleksi kafe perpustakaan ini,” ujarnya sambil meninggalkan sebuah buku di atas meja.

Aku terdiam memperhatikan buku itu. Tentang Waktu. Judul itu tertulis di sana.

Maaf, tunggu sebentar,” ujar Reksa sembari menghampiri kami, menahan langkah perempuan itu. “Buku ini… Anda atau ibu Anda yang menulisnya?” tanyanya, membuatku menelan ludah.

Perempuan itu tersenyum. “Saya yang menulisnya. Sepertinya saya mengikuti jejak ibu saya menggilai pekerjaan ini,” jawabnya masih sambil tersenyum, lalu pergi begitu saja.

Laki-laki di sampingku meraih buku yang ada di meja itu. Kami membaca bagian belakang buku itu sepintas. Semua rahasia kami tertulis di sana. Semua perjalanan lintas waktu kami, yang selama ini kami simpan sendiri, sudah tak bisa lagi disebut rahasia.

Basic RGB

Buat #RabuMenulis #TimeTravelerSeries