Welcome Party – Sebuah Tradisi

Beswan Djalang 29 berfoto bersama seusai Welcome Party.

Beswan Djalang 29 berfoto bersama seusai Welcome Party.

Ada banyak kegiatan yang akan diikuti seorang beswan, termasuk salah satunya Welcome Party (WP). WP sebenarnya tidak termasuk dalam rangkaian kegiatan pelatihan soft skills yang akan diikuti seorang beswan. Kegiatan ini adalah sebuah momentum awal pertemuan semua beswan dalam satu distrik yang sudah menjadi sebuah tradisi. Bisa dibilang, gathering ini semacam ospek di ranah beswan. Dalam kegiatan yang berlangsung sehari ini, semua beswan dalam satu distrik akan berkunjung ke kantor Djarum dan mendapatkan pengetahuan tentang serangkaian kegiatan yang akan mereka ikuti selama menjadi beswan, serta ketentuan-ketentuan lainnya.

Acara Welcome Party yang diikuti oleh Beswan Djalang 29 Malang diadakan pada tanggal 13 Oktober 2013 di Kantor Djarum. Awalnya, semua Beswan Djalang berkumpul di gazebo Universitas Brwijaya—mengingat jumlah beswan dari kampus biru ini adalah yang paling banyak se-Malang. Sembari menunggu teman-teman yang lain datang, setiap kelompok mempersiapkan yel-yel masing-masing. Ya, beswan dari Distrik Malang memang sudah dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya terdiri dari kumpulan beswan dari berbagai universitas di Malang. Mungkin, konsep pembagian kelompok inilah yang nantinya membuat Beswan Djalang memiliki yel-yel terheboh dari beswan-beswan distrik lain.

Setelah semua beswan berkumpul, perjalanan ke Kantor Djarum pun dimulai dengan dipimpin oleh kakak beswan angkatan 28. Acara dimulai dengan presentasi oleh pembina Pembina Djarum Bakti Pada Negeri Malang tentang segala seluk beluk Djarum Beasiswa Plus. Presentasi ini juga mencakup pembahasan tentang prosedur penerimaan uang beasiswa, atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘gaji’. Penerimaan gaji dilakukan setiap bulannya selama setahun dengan membawa KTM dan tanpa boleh diwakilkan oleh orang lain.

Acara selanjutnya adalah presentasi tentang semua kegiatan yang akan dilakukan oleh seorang beswan: Nation Building, Character Building, Leadership Development, Competition Challenges, International Exposure, dan Community Empowerment. Penjelasan tentang semua rangkaian kegiatan tersebut juga merupakan media sharing pengalaman oleh kakak beswan 28 karena mereka sudah merasakan semua kegiatan tersebut.

Satu bagian yang menarik dari acara Welcome Party Beswan Djalang adalah kegiatan tukar kado. Semua beswan angkatan 29 yang datang dalam acara tersebut memang diminta membawa kado berbungkus koran dan bersifat netral, artinya barang tersebut dapat dipakai laki-laki dan perempuan. Kemudian, semua beswan duduk melingkar dan menggeser kadonya sesuai instruksi MC. Dari sanalah kemudian terjadi pertukaran kado yang menyenangkan. Ada yang dapat bantal, cangkir, pigura dengan foto Beswan Djalang, gelang bermotif macan, atau bahkan flashdisk 8 GB.

Kura-kura yang didapat penulis dari tukar kado di Welcome Party.

Kura-kura yang didapat penulis dari tukar kado di Welcome Party.

Untuk menghapus gap antara kelompok satu dan kelompok lain, pada akhirnya semua beswan disatukan dengan ditandai dengan dipilihnya pengurus inti. Kemudian, dalam waktu satu jam, harus sudah terbentuk sebuah yel-yel yang merupakan gabungan dari potongan yel-yel terbaik dari setiap kelompok. Perlu digarisbawahi, untuk Distrik Malang, tak mengherankan kalau yel-yel yang dibuat penuh dengan punch line kata terkenal khas Surabaya. Penambahan kata yang sebenarnya cukup kasar untuk kalangan arek Malang tersebut semata-mata untuk merekatkan dan mengakrabkan semua anggota.

Penutup acara adalah prosesi tutup masa jabatan dari angkatan 28 yang ditandai dengan kegiatan saling minta maaf antarbeswan. Bagian ini cukup mengharukan, sebab hampir semua kakak beswan menangis mengenal masa setahun ke belakang yang telah mereka jalani. Ada tawa, duka, rasa sesal, dan juga rasa bangga yang mereka bagi. Terbayang sudah masa satu tahun ke depan yang akan dijalani Beswan Djalang 29. Langkah pertama sudah diawali dengan tradisi Welcome Party, tradisi yang menjadi saksi pertemuan pertama beswan.

Di balik meriahnya festival tahunan Malang Kembali atau yang biasa dikenal dengan Malang Tempo Dulu, ternyata dapat kita temukan gambaran menyedihkan perkembangan zaman yang sesungguhnya. Pengemis dan pengunjung berbaur dengan para pengunjung yang memadati festival itu. Mereka adalah korban-korban kemiskinan yang tidak dapat mengejar cepatnya laju perkembangan zaman. Faktor ekonomi dan pendidikan merupakan dua alasan utama terpuruknya kehidupan mereka.

Tengok saja seorang bapak yang mengemis di depan sebuah stand makanan tempo dulu ini. Beliau rela duduk hingga pagi sampai malam di sana bersama anak perempuannya yang kelaparan dan sudah tak sanggup untuk sekedar membuka mata saja. Didekapnya anaknya itu dengan iba, sementara tangan lainnya menengadah demi menerima sepeser receh yang diberikan pengunjung pada beliau.

Tak jauh dari bapak tersebut, ada pula seorang bapak yang mengemis di sebuah sudut festival Malang Kembali. Tangan kanan dan kedua kaki bapak ini telah diamputasi, entah karena sebuah kecelakaan atau penyakit. Siang itu, Sabtu, 26 Mei 2012, beliau duduk di bawah teriknya matahari demi menanti keping-keping uang koin. Beruntung banyak pengunjung yang masih peduli dengan beliau.

Masih banyak lagi potret hitam yang lain seperti bapak pengemis dengan seorang anaknya yang menderita penyakit hydrocephalus atau ibu pengemis yang berkeliling di setiap sudut sambil menenteng sebuah tas lusuh. Namun, ada juga seorang bapak pengamen yang terkesan nyentrik. Dengan memakai kostum tempo doeloe yang mencolok dan sebuah gitar kecil yang dihias sedemikian rupa, beliau berkeliling dari stand kestand. Beliau tampak sangat menikmati perjuangannya itu. Dengan gayanya yang kocak, tak heran banyak penjual dan pengunjung yang terhibur olehnya.

Begitu banyak potret hitam kemiskinan yang sedikit terlupakan di antara warna-warni potret keceriaan festival Malang Kembali. Orang-orang dari kalangan rendah yang kurang beruntung tersebut mengadu nasib mereka di tengah ramainya kerumunan pengunjung. Bukan saatnya kita berpaling dari masalah yang tak ada habisnya ini. Inilah saatnya kita mencari solusi demi berkurangnya tingkat kemiskinan di Malang.(tya)

Spot Foto Keren di Malang

Pantai

Spot ini bisa memberikan kesan ceria jika sedang ramai, tapi bisa juga memberikan kesan klasik saat benar-benar sepi. Latar pasir yang luas dan debur ombak bisa memberikan hasil akhir foto kita bermacam-macam. Di daerah Malang bagian selatan, ada pantai yang bagus untuk mengambil gambar, yaitu Pantai Balekambang. Pantai ini terletak di kabupaten Malang, kurang lebih 30 kilometer sebelah selatan kota Kepanjen, atau 45 kilometer sebelah selatan kota Malang. Ada pura kecil di atas pulau batu, 100 meter lepas Pantai Balekambang yang bisa jadi lokasi foto menarik.

Parade atau Even Tahunan

Ada banyak even tahunan berlatar klasik yang diadakan setiap tahun di Malang, salah satunya adalah Malang Kembali atau Malang Tempo Doeloe. Dengan banyaknya kostum serba vintage yang dipakai pengunjung, tatanan stand klasik, serta lampu-lampu hias yang berwarna-warni, even ini bisa jadi pilihan tempat pengambilan foto yang tak terlupakan

Resto atau Kafe dengan dekor unik

Sekarang banyak sekali kafe yang tidak hanya menyuguhkan makanan yang enak, tapi juga suasana yang mendukung tema kafe itu sendiri. Biasanya pemilik kafe mendekor ruangan dengan wallpaper lucu, lukisan-lukisan menarik, atau pajangan berupa patung-patung unik yang bisa dijadikan spot foto menarik. Tapi ingat, kita perlu membaca dulu apakah ada peringatan boleh mengambil gambar atau tidak.

Taman

Konsep pemotretan piknik atau garden party bisa menjadi pilihan menarik. Dengan memanfaatkan background pohon-pohon, bunga-bunga, hamparan rumput, lampu hias di kota, atau kursi taman, kita bisa mendapat kesan playful di spot ini. Di Malang ada banyak taman yang bisa dituju, seperti Alun-Alun Tugu, taman di kawasan Tidar, dan Dieng.

Bangunan Tua

Di spot jenis ini, kita bisa mendapatkan kesan gloomy yang justru akan menampakkan perhatian lebih pada model foto. Kawasan Jalan Ijen terkenal dengan bangunan-bangunannya yang masih menampilkan peninggalan Belanda. Beberapa bangunan memang sudah dipugar seperti bangunan modern, tapi sebagian besar masih ‘perawan’. Rumah-rumah tua dan Gereja tua Ijen bisa menjadi pilihan. Selain itu, Toko Oen dengan bangunan kolonialnya juga bisa dituju.(tya)