Catatan Tujuh September [puisi]

Kupikir ini akan menjadi penanda peringatan kelahiranmu.

Sepotong bingkisan dengan tulisan tanganmu menempel pada larik sajaknya.

Berpita manis seperti boneka berdasi yang terlukis di cangkir teh kita.

Tapi kau tahu, ini bukan lagi tentang kalender Hijriah, lekuk-lekuk huruf Hijaiyah, atau harapan-harapan bisu menghitung usiamu, bilangan-bilangan penutup yang mencari lirihan sabit baru.

Aku tak ingin menganggapnya sebagai cerita paling sia-sia.

Anggap saja ini adalah lembar penutup di mana aku meletakkan karangan bunga di atas nisan yang didalamnya terkubur catatan kita.

Pahit. Manis.

Seperti suatu kali kau berujar bahwa aku mendadak antagonis.

Mungkin kau hanya bunga mahoni yang datang dari masa perbungaan raya.

Menyinggahi penhujanku yang menderas memenuhi janji kemaraunya.

Kau hanya setitik di antara ribuan tetes, seserpih di antara hamparan es, sepucuk yang baru bersemi menemani empun dini tadi.

Sedangkan aku, terus menjadi musim yang berlari di sayap waktu; menandai jejak tunas yang dilumatkan alfabet dari alineanya, disamarkan premis dari paragrafnya, disembunyikan serasah dalam gugur dan kubur.

Musim akan terus bergulir, meski kau tak lagi hadir.

Kepada:

Gagasmedia yang terlambat dan membuat semuanya jadi serba terlambat.

Eh, nggak sih, semua memang sudah ditakdirkan Tuhan ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s