Di balik meriahnya festival tahunan Malang Kembali atau yang biasa dikenal dengan Malang Tempo Dulu, ternyata dapat kita temukan gambaran menyedihkan perkembangan zaman yang sesungguhnya. Pengemis dan pengunjung berbaur dengan para pengunjung yang memadati festival itu. Mereka adalah korban-korban kemiskinan yang tidak dapat mengejar cepatnya laju perkembangan zaman. Faktor ekonomi dan pendidikan merupakan dua alasan utama terpuruknya kehidupan mereka.

Tengok saja seorang bapak yang mengemis di depan sebuah stand makanan tempo dulu ini. Beliau rela duduk hingga pagi sampai malam di sana bersama anak perempuannya yang kelaparan dan sudah tak sanggup untuk sekedar membuka mata saja. Didekapnya anaknya itu dengan iba, sementara tangan lainnya menengadah demi menerima sepeser receh yang diberikan pengunjung pada beliau.

Tak jauh dari bapak tersebut, ada pula seorang bapak yang mengemis di sebuah sudut festival Malang Kembali. Tangan kanan dan kedua kaki bapak ini telah diamputasi, entah karena sebuah kecelakaan atau penyakit. Siang itu, Sabtu, 26 Mei 2012, beliau duduk di bawah teriknya matahari demi menanti keping-keping uang koin. Beruntung banyak pengunjung yang masih peduli dengan beliau.

Masih banyak lagi potret hitam yang lain seperti bapak pengemis dengan seorang anaknya yang menderita penyakit hydrocephalus atau ibu pengemis yang berkeliling di setiap sudut sambil menenteng sebuah tas lusuh. Namun, ada juga seorang bapak pengamen yang terkesan nyentrik. Dengan memakai kostum tempo doeloe yang mencolok dan sebuah gitar kecil yang dihias sedemikian rupa, beliau berkeliling dari stand kestand. Beliau tampak sangat menikmati perjuangannya itu. Dengan gayanya yang kocak, tak heran banyak penjual dan pengunjung yang terhibur olehnya.

Begitu banyak potret hitam kemiskinan yang sedikit terlupakan di antara warna-warni potret keceriaan festival Malang Kembali. Orang-orang dari kalangan rendah yang kurang beruntung tersebut mengadu nasib mereka di tengah ramainya kerumunan pengunjung. Bukan saatnya kita berpaling dari masalah yang tak ada habisnya ini. Inilah saatnya kita mencari solusi demi berkurangnya tingkat kemiskinan di Malang.(tya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s