Bukakan Mataku

Empati yang menumpul oleh kejaran detik jam.

Imaji yang dibiarkan terkurung jerumi pekat malam.

Tumpul. Gundul.

Tangan kami telah mandul.

Tumpukan kertas di keranjang bekas masih perawan.

Bertumpuk rapi haus sentuhan.

 

Ah, ke mana perginya rasa?

Kami terlampau dalam menutup mata.

Tersesat dalam tidur beribu masa.

 

Maka malam ini catatlah puisi kami pada lembar -lembar kertas yang hampir mati menanti. Pena mencari arah ke mana harus melangkah. Jemari merangkak menyusun huruf-huruf, walau sedikit kikuk.

 

: Kepada sastrawan-sastrawan yang membuatku haus menulis puisi lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s