Membaca, Menulis, dan Menghargai Kehidupan

Membaca, Menulis, dan Menghargai Kehidupan

Seorang anak laki-laki berjalan di belakang ibunya, menyusuri sebuah jalan setapak panjang. Pagi yang gelap masih baru menjelang. Jalanan yang berkabut itu pun masih begitu sepi. Angin berhembus agak kencang hingga menerbangkan daun-daun kering yang menghujani mereka berdua.

Setiap pagi, anak laki-laki itu mengikuti ibunya ke kebun. Ketika matahari baru beranjak keluar dari peraduan, mereka sudah siap berangkat. Ibunya merawat kebun luas mereka, mendahului hari yang baru bangun. Bocah laki-laki itu sendiri selalu membawa sebuah buku puisi, mendekapnya di depan dada. Sembari menunggu ibunya merawat kebun, ia membaca bukunya di bawah pohon.

“Kamu tunggu di sini, San?” tanya ibunya.

Anak laki-laki itu mengangguk. “Ya, Bunda.”

Ada sebatang Pohon Beringin raksasa di sana, berdiri kokoh sejak anak itu belum lahir. Ketika ia duduk pada akar-akar pohon itu, ia rasakan tangan-tangan pohon itu mendekapnya erat. Pohon itu begitu menaungi dengan keteduhan yang diciptakan daun-daunnya. Di sana ia selalu membaca puisi-puisi yang mengisahkan alam. Ia begitu mengagumi alam dengan segala keindahannya.

“Ahsan, belum selesai?” suara ibunya mengagetkannya. Wanita itu sudah berdiri di depannya, sepertinya sudah lama. “Kamu sedang membaca apa?”

Anak laki-laki itu tersenyum. “Hanya sebuah puisi,” katanya sambil menyerahkan buku catatannya pada ibunya.

A Morning to Cherish

I watched this serene scene in silence for some time.

The morning was still fresh and the dew blanketed grass sparkled under the warm sun.

As I captured the magical moment, its beauty captured my heart too.

 

I imagined all the fun and joy to live under the gentle giant.

So I started wishing… that I could be the deer, the swans, or the birds, so that I too would be able to enjoy the cool shade of this mejestic fig tree all day long.

 

-Deniek G. Sukarya-

***

Puisi A Morning to Cerish karya Deniek G. Sukarya di atas menggambarkan betapa cintanya beliau pada alam, kehidupan, dan terutama pada pohon raksasa yang selalu menjadi tempat bermainnya ketika kecil. Deniek adalah seorang fotografer profesional yang selalu menjadikan pohon sebagai objek fotonya. Kecintaannya pada pohon begitu mendalam, hingga ia begitu menghargai pohon dan menyukai foto-foto pohon yang diambilnya.

Sahabat, puisi adalah gambaran perasaan yang diceritakan dalam bentuk tulisan. Puisi adalah curahan perasaan yang mewakili apa yang kita rasakan. Dengan membaca dan menuliskan apa yang ada dalam hati kita, beban kita akan lebih ringan. Kehidupan yang kita jalani ini begitu sayang jika dijalani dengan datar. Mengabadikan alam dalam bentuk karya seni seperti puisi, foto, atau cerita, akan meninggalkan memori tersendiri untuk kita nikmati nantinya.

Setiap orang tentunya memiliki bidang atau keahlian masing-masing. Manfaatkanlah kemampuan yang kita miliki itu untuk menghargai alam dan kehidupan yang ada di dalamnya, Sahabat. Jadi, karya apakah yang sudah Sahabat hasilkan untuk alam hari ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s