Sebuah Puisi, Juga Lagu

Aku lelah, baru pulang dari kampus selepas isya. Tapi, aku harus menceritakan sesuatu padamu. Hari ini adalah Student Day terakhir. Do you know? Tadi aku dan kelompokku menampilkan teatrikal-musikalisasi puisi! Awalnya kami sempat down karena juri selalu tak setuju dengan performance yang berisi kritikan-kritikan untuk Fakultas Ilmu Budaya. Kami sempat takut karena puisi yang akan kami baca dan nyanyikan itu penuh sindiran. Sindiran untuk fakultas yang begitu sempit, sering bocor ketika hujan lebat, juga sindiran untuk kakak-kakak Tim Lapangan. Tapi, akhirnya kami memberanikan diri juga. Aku tampil bersama tim paduan suara, Ari bersama pasukan wayang dan puisinya, dan Cahyo mengiringi dengan gitarnya.
Hey, tahukah kau apa komentar juri?
Permainan kalian membuat saya merinding. Kalian tahu, diperlukan kahati-hatian kalau ingin mengritik. Tapi saya salut, kalian bisa menggarap kritikan itu dengan sangat halus.”
Kurang lebih seperti itu kata juri. Woo! Dan performance kami masuk nominasi FIB in action (FICTION) terbaik. Walaupun hanya masuk sebagai nominasi dan tak terpilih sebagai pemenang, kami sudah puas. Alhamdulillah ;D
Inilah puisi yang kutulis yang ditampilkan dalam FICTION. Puisi ini dibuat sebagai lagu oleh Cahyo, seorang teman sekelompokku.
[untitled yet]
Kami mendengar cerita tentang langkah-langkah
Datang dari negeri-negeri berbagai penjuru arah
Merangkai mozaik baru di sebuah noktah
Hanya sebuah noktah
Sebuah titik yang kami sebut rumah
Yang pada akhirnya disekat jadi empat
Demi perebutan sebuah tempat
Tahukah kau?
Ternyata, langit begitu cengeng
Air matanya pandai mencari celah
Dan mereka melukiskan jelaga di atas kepala
Meneteskan embun-embun tawar tak berasa
Menghanyutkan rumah kami jadi kolam dan rawa
Juga samudera-samudera baru tanpa nama
Kami hanya sebaris prajurit perang
Boneka-boneka wayang yang didiktatori dalang
Sementara mereka, tokoh-tokoh antagonis di balik layar
Menjalankan peran dalam topeng kasar
Mutlak memimpin sebuah kerja rodi
Yang bahkan tak mengenal diplomasi
Tapi kami masihlah pejuang budaya
Kami susun rumah kami jadi istana
Demi perjuangan bangsa dan negara
Sebab kami adalah mahasiswa
Malang, 14 November 2011
Di sisa malam yang melelahkan
-Kepada fakultasku tercinta-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s