Di Bawah Keteduhan Trembesi

Di Bawah Keteduhan Trembesi
Oleh : Tyas Effendi & Achmad Siddik Thoha

Gerimis pertama di musim penghujan tahun ini akhirnya turun juga. Titik-titik air dingin jatuh menatap permukaan aspal yang bersih. Seorang gadis berlari-lari kecil menerobos rintiknya, membiarkan anak hujan itu mengguyurnya. Tangannya mendekap lembaran-lembaran tugas di depan dada. Gadis itu menghentikan langkahnya di bawah sebatang pohon tua di bahu jalan. Samanea saman. Pohon Trembesi, Pohon Hujan.

Pohon dengan tajuk yang sangat lebar itu melindungi si gadis dari serangan air hujan. Ketika berdiri di bawah naungannya, rimbun dedaunan menyembunyikannya dari hujan. Pohon yang ramah itu melindungi lembaran kertas tugas dari air. Gadis itu tersenyum kecil pada Pohon Hujan, mengucapkan salam.

***

Tahun berikutnya, musim penghujan terlambat datang. Kemarau bergulir lebih dari masa yang sudah ditentukan alam. Seorang gadis berjalan menapaki jalan yang membujur panjang tanpa persimpangan. Cuaca hari itu betapa teriknya. Matahari tengah sampai pada puncaknya. Gadis itu pun berjalan cepat menuju sebatang pohon yang besar di seberang. Samanea saman. Pohon Trembesi, Sang Peneduh.

Pohon bertajuk lebar itu sangat mendamaikan. Seperti menghempaskan gadis itu dari padang pasir ke sebuah padang rumput yang sejuk. Ketika ia menengadahkan wajah, ia mendapati titik-titik air yang menetes dari tajuk pohon. Air itu berasal dari kemampuan pohon itu menyerap air dalam tanah. Titik-titik air itu, oasis yang menyegarkan. Gadis itu mengulum sebuah senyum pada Pohon Peneduh, kembali mengucapkan salam.

***

Pohon Trembesi bisa menjadi karakter yang melindungi, bahkan untuk dua waktu yang berbeda. Dalam dua kondisi yang berbeda, pohon ini tetap menjadi satu karakter yang sama: memberi kenyamanan.

Sahabat, tajuk Pohon Trembesi berkorban meredam teriknya matahari yang bisa merusak kehidupan makhluk yang dibawah naungannya. Trembesi dengan tajuknya juga merubah tumbukan hujan yang keras dan cepat menjadi pelan dan tidak merusak. Kelebatannya tak hanya menyirnakan panas, tapi ia juga menghembuskan udara segar yang dibutuhkan makhluk hidup. Ia juga menjadi peneduh yang membuat kehidupan makhluk lain dibawah pohon berlangsung kondusif. Ia peneduh diputaran musim yang terus berganti. Ia tak kenal lelah, menjadi peneduh saat indah dan susah.

Indahnya hidup bersama orang-orang yang menjadi peneduh bagi kehidupan ini. Saat masalah deras mengguyur maka ada tempat dan orang yang menjadi peneduh. Ketika jiwa memanas ada tempat melampiaskan perasaaan untuk mendinginkan emosi dan menyegarkan jiwa.

Sahabat, Trembesi yang rindang memberi pelajaran hidup berharga tentang ketulusan melindungi, memberi keteduhan saat datang gemuruh dan panasnya masalah serta memberi solusi kesegaran bagi sekitarnya. Orang-orang berjiwa peneduh akan menjadi tempat berlabuhnya hati banyak manusia. Ia mampu meredam derasnya masalah, menyirnakan emosi yang memanas dan memberi kesegaran jiwa melalui nasehat, sikap dan teladannya.

Seorang pemimpin yang berjiwa peneduh selalu berada ketika terjadi masalah selalu di depan menghadang, mengurangi dampak tidak menguntungkan dan memberi solusi yang menduhkan. Seorang pemimpin yang berjiwa teduh tidak akan membuat gelisah, resah dan membingungkan orang-orang yang dipimpinnya. Ia tak lari dari masalah, bahkan menjadi yang terdepan memimpin dalam menemukan solusi.

Seorang sahabat yang teduh jiwanya akan selalu menjadi tumpuan sesamanya dalam memberikan perlindungan, kenyamanan dan solusi. Bukan sebaliknya meninggalkan sahabatnya panas emosinya, basah kuyup dengan masalah dan kehilangan kendali dalam menemukan solusi. Semoga karunia Nya berupa orang-orang yang berjiwa peneduh ada bersama kita baik di keluarga, lingkungan pergaulan, rekan kerja dan organisasi.

8 thoughts on “Di Bawah Keteduhan Trembesi

    • Tyas Effendi says:

      Salam kenal, Yusuf🙂

      Iya, sejak kecil saya selalu penasaran sama pohon-pohon di sekitar.
      Akhirnya saya jadi banyak menulis tentang pohon di novel-novel saya.
      Dulu sempat belajar tentang dendrologi dari Pak Achmad Siddik Thoha juga (dosen kehutanan IPB), jadi saya semakin suka menyelami dunia dendrologi.
      Terima kasih sudah berkunjung🙂

      • Tyas Effendi says:

        Bisa jadi, pohon bungur atau crape myrtle :))
        Saya suka karena pohon ini sederhana. Kalau nggak lagi musim berbunga, dia memang ‘nggak terlihat’. Tapi, dia tahu gimana cara menghadirkan bunga yang rimbun dan berwarna cerah.

        Kalau Yusuf sendiri gimana?

      • Mungkin saya seperti Nepenthes rafflesiana. Mampu hidup di kondisi tanah yang miskin hara sama seperti saya yang sudah terbiasa hidup sederhana. Tapi N. rafflesiana tidak bisa hidup tanpa menempel ke tumbuhan inang, sama seperti saya yang tidak bisa hidup tanpa dukungan orang-orang yang berada di sekitar saya. Kesannya manja dan merepotkan ya?? Saya orangnya mandiri kok, tapi memang saya bisa seperti sekarang berkat orang-orang di sekitar saya juga. Dan yang terakhir, N. rafflesiana adalah tumbuhan yang unik, sama seperti saya yang unik, hehe..

      • Tyas Effendi says:

        Waaaah, keren banget nih refleksi dan analoginya. Kalau boleh tau, Yusuf dulu ambil kuliah Kehutanan ya? Atau, sekarang lagi kerja di Hutan Raya Bogor? *hihi, maap sotoy*

      • Iya, saya alumni Kehutanan IPB. Sekarang sih kerjanya ngajar di sebuah SD swasta di Bogor.

        Tapi baru ingat, N. rafflesiana kan bukan “pohon”, tapi “liana”, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s