The Mourning Rain

Hujan membangunkanku dari kemarau.

Titik-titik air bertabrakan tak saling kenal.

Yang kutahu, kemarau belum lama berlalu.

Bunga polong-polongan masih haus debu.

Ternyata langit begitu cengeng.

 

Setidaknya, titipkan salam pada gerimis

jika kau hendak datang.

Atau pada awan kelabu

yang tak setiap hari pulang.

Biar nanti jika kau kembali,

akan kusambut lebih riang.

: Kepada kemarau yang kurindu

pada

One thought on “The Mourning Rain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s